Status badan hukum dan perizinan, taruh di halaman awal
Bukan halaman favorit siapa-siapa memang, tapi justru bagian yang paling sering dicari calon pembeli dan bank. Calon pembeli yang mau KPR biasanya akan cek dulu: PT-nya atas nama siapa, IMB/PBG perumahan ada atau tidak, dan apakah project ini benar-benar dipegang developer yang sama atau cuma kerja sama.
Cantumkan nama perseroan lengkap, akta pendirian, domisili, dan izin-izin utama seperti PBG, SLF, serta PBB yang sudah beres. Taruh di urutan kedua atau ketiga, bukan di lampiran belakang. Bank dan notaris tidak punya waktu membaca 20 halaman untuk menemukan data ini. Dua halaman pertama yang rapi akan menghemat banyak email bolak-balik.
Portofolio dengan status penjualan, bukan cuma foto rumah
Hampir semua developer menampilkan foto rumah. Sedikit yang berani menampilkan angka. Padahal justru angka yang paling meyakinkan: cluster A sudah terjual 80 persen, cluster B baru 12 unit dari 60, atau total 340 unit terserap dalam empat tahun terakhir.
Menampilkan progress seperti ini terasa seperti buka data internal, tapi justru itu yang membuat calon pembeli tenang. Mereka berpikir, kalau orang lain saja sudah banyak yang beli, berarti project ini jalan. Untuk bank atau investor, data ini bahkan lebih penting daripada desain rumahnya.
Peta lokasi dan akses yang jujur
Foto kawasan biasanya cantik, tapi orang butuh informasi yang lebih membumi: jarak ke gerbang tol, ke sekolah, ke rumah sakit, dan berapa menit ke pusat kota. Buat peta sederhana yang menunjukkan itu semua, lengkap dengan waktu tempuh.
Kalau aksesnya masih kurang mulus, jangan ditutup-tutupi. Sampaikan rencana perbaikannya. Developer yang mengakui kondisi jalan sekarang sambil menunjukkan komitmen perbaikannya justru terlihat lebih serius daripada yang foto lokasinya diedit terlalu bagus.
Rencana pengembangan jangka panjang
Perumahan yang hanya berisi rumah tanpa rencana lanjutan terasa seperti proyek dadakan. Sebaliknya, kalau compro menunjukkan masterplan tiga sampai lima tahun ke depan, calon pembeli melihat ada masa depan di sana.
Tuliskan fase-fasenya: fase 1 berapa unit dan kapan, fase 2 akan ada ruko atau fasilitas apa. Ini menunjukkan kamu berpikir jangka panjang, bukan sekadar menjual apa yang sudah jadi.
Tim dan partner yang terlibat
Properti tidak pernah dibangun sendiri. Sebutkan kontraktor utama, konsultan perencana, dan pengawasnya. Kalau pernah bekerja dengan bank tertentu untuk KPR bersubsidi atau bermitra dengan perusahaan besar, cantumkan.
Bagian ini yang membedakan developer yang dikerjakan asal-asalan dengan yang profesional. Orang akan mencari nama-nama ini di internet, jadi pastikan apa yang kamu tulis bisa dipertanggungjawabkan.
Testimoni penghuni, bukan klaim sendiri
Tidak ada yang lebih meyakinkan daripada cerita orang yang sudah tinggal di rumahmu. Minta testimoni dari penghuni yang sudah dua atau tiga tahun menempati, bukan yang baru serah terima. Tanyakan hal-hal spesifik: bagaimana proses klaim garansi, bagaimana respons tim kalau ada kerusakan, bagaimana kondisi lingkungan setelah dihuni.
Testimoni seperti ini lebih dipercaya daripada deretan penghargaan yang tidak dikenal orang.
Company profile, bukan cuma dokumen
Company profile developer yang baik sebenarnya bekerja seperti tenaga pemasaran yang pendiam. Dia menjawab pertanyaan sebelum ditanyakan. Dan dalam bisnis yang melibatkan uang besar seperti properti, menjawab keraguan lebih dulu jauh lebih efektif daripada sekadar memamerkan keindahan desain.
Kalau company profile kamu sekarang masih didominasi foto dan denah tanpa data, mungkin ini saatnya didesain ulang. Tim kami biasa mengerjakan company profile untuk developer, kontraktor, sampai perusahaan tambang, lengkap dengan data penjualan dan perizinan yang disusun biar enak dibaca. Kalau mau, ceritakan dulu project-mu di halaman jasa pembuatan company profile atau langsung hubungi kami. Gratis konsultasi awal kok.
